Laman

Senin, 12 Februari 2018

KESERUAN DI TENGAH SEPINYA PASAR ARSY PINANG JAYA



Pasar Arsy Pinang Jaya, Tangerang, masih mengalami sepi pengunjung, Senin, (12/02/2018). Hal ini menyebabkan banyak pedagang yang mengeluhkan kecilnya keuntungan yang diraup. (Foto: Dian Puspita)



Dibangun semenjak tahun lalu, Pasar Arsy Pinang Jaya, Tangerang dikabarkan masih mengalami sepi pengunjung. Padahal pasar ini memiliki lahan parkir yang cukup luas dan tempat yang bersih. Beberapa pedagang mengeluhkan kurangnya minat pengunjung mau pun pembeli yang datang ke pasar yang terletak di daerah Pinang, Tangerang ini. Keuntungan mereka hanya terasa di bulan Ramadan dan pada hari Sabtu saja sedangkan sisanya lokasi ini tidak terlalu ramai.

Saya pun mendatangi pasar yang terletak beberapa meter dari Danau Cipondoh ini untuk membuktikan hal tersebut. Dari pengamatan saya, selain menggunakan keadaan pribadi, Anda dapat menaiki beberapa angkutan umum yang lalu lalang melewati pasar ini.  Letaknya benar – benar berada di pinggir Jl. Raya Pinang, tepatnya di RT 004 RW 002, Kota Tangerang.

Hari Senin, 12 Februari 2018, pasar memang tampak sepi. Hanya segelintir anak – anak dan beberapa orang dewasa yang mengunjunginya. Hal ini tidak mengherankan karena beberapa booth memang terlihat kosong tanpa ada pedagang yang menempatinya.  

Ahmad Tafakur, 32, Pedagang di Pasar Arsy
"Saya sudah berdagang hampir setahun, namun belum ada peningkatan dari segi penghasilan. Memang masih sangat sepi dan ramai hanya saat bulan puasa," ujar Ahmad Tafakur, seorang pedagang yang merantau dari Padang, Sumatera Barat.

Diutarakan oleh Yono, pengelola Pasar Arsy Pinang Jaya, banyak faktor yang mempengaruhi sepinya Pasar yang dibangun April 2017 ini. Salah satunya karena pasar memang belum lama berdiri. Di sisi lain, pemasaran atau strategi yang dilakukan pemilik memang masih kurang gencar. Maklum saja, pasar ini dikelola hanya secara tradisional oleh sang pemilik dan beberapa orang yang menjadi kepercayaannya untuk menjaga pasar ini. Tidak ada cara lain atau keunikan tersendiri yang dilakukan untuk membuat pasar ini semakin dikenal masyarakat sekitar. 

Sewa yang ditawarkan di pasar ini untuk berdagang cukup murah. Dalam setahun, pedagang dikenakan biaya Rp 6.000.000,- saja walau belum termasuk tarif listrik. Pedagang tidak perlu lagi memikirkan sewa parkir dan retribusi lainnya. 

Booth pakaian yang dapat ditemui di Pasar Arsy Pinang Jaya (Foto: Dian Puspita)

Selesai berkeliling pasar ini, saya pun puas belanja dengan harga yang sangat murah dibandingkan harus belanja ke pasar swalayan. Mulai dari makanan ringan, sayuran, minuman, hingga makanan berat pun tersedia. Ada juga beberapa booth pakaian, hingga alas kaki dengan harga miring. 

Beberapa permainan atau wahana baru dibuka sekitar jam 19.00. Bila Anda membawa anak kecil, dapat mengajak mereka ke wahana komedi putar atau mandi balon. Untuk Anda yang berjiwa adrenaline tinggi, tentu wajib mencoba masuk ke permainan ombak banyu atau rumah hantu. 

Permainan komidi putar di Pasar Arsy Pinang Jaya (Foto: Dian Puspita)
Saya mencoba permainan ombak banyu, yaitu permainan duduk bertahan di atas tiang  - tiang besi yang diputar seperti gangsing. Rasa pusing setelah permainan berlangsung, tidak perlu ditanya. Namun, itu sebanding dengan keceriaan melihat ekspresi pengunjung lain yang ikut dalam wahana tersebut yang menurut saya sangat lucu. 

Overall, saya menikmati Senin itu dengan belanja murah dengan lokasi yang nyaman dan bersih. Sepinya Pasar Arsy Pinang Jaya juga justru membuat saya melanglang bebas menikmati wahana tanpa antri. Tidak hanya ombak, masih terdapat beberapa wahana seru lainnya seperti rumah hantu, lempar gelang, bianglala, dan komedi putar yang siap menghibur kita semua dengan biaya yang relatif murah. 

Jika Anda ingin sedikit menghibur diri dengan sarana rekreasi dan belanja tapi memiliki budget minim, jangan khawatir. Pasar Arsy Pinang Jaya buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga 12 malam. "Pasar Arsy Pinang Jaya, pengunjung senang, pedagang pun riang," ujar Yono menambahkan.

Tidak ada komentar: