Laman

Minggu, 04 Oktober 2015

Seperti Kata Kamu



Kembali saya putuskan untuk menulis lagi. 

Seperti kata kamu. 

Menulis bukan karena supaya dibaca orang lain, tapi karena memang ingin menulis. 

Ah, sudahlah. Mungkin kamu sendiri lupa dengan apa – apa saja yang kamu ucap dan janjikan kepadaku. 

Ada terlalu banyak cerita yang ingin kutulis, terlalu banyak rencana yang telah kuatur. Namun ketika aku mengingat kata ‘kamu’ dalam ketikanku, aku hanya…

 sulit untuk tidak menulis apa – apa saja tentang kamu


Bertemu dan merasa nyaman denganmu sungguh spontan dan di luar rencanaku. Merasa nyaman denganmu mengajarkan kata ‘ikhlas’ yang tidak perlu aku ucapkan, karena kata itu hanya pantas untuk dilakukan. Seperti kata kamu. Ya, mungkin dari tulisan ini memang berarti aku belum ikhlas secara harafiah.


Seperti kata kamu. Biarkan saja anak kecil melakukan apapun yang mereka inginkan.  Jangan takut jika mereka melakukan sebuah kesalahan. Jangan pernah takut salah. Kesalahan hanya bagian dari proses.  Hidup ini proses.


Lalu apa aku salah jika aku ingin genggaman tanganmu? Karena saat itu aku merasakan kupu – kupu dalam perutku. Kamu bilang mungkin itu cinta. Tenang saja, aku tidak akan memohonmu untuk menjelaskannya karena aku sangat menikmati proses itu. Dan aku sudah terlalu lelah untuk mengartikan apa itu cinta. 


Seperti kata kamu. Bahwa menjalani hidup bukan hanya sekadar nyaman.  Terkadang ada masa sulit yang harus dilewati. Itulah seni kehidupan. 



Seperti kata kamu saja. Kamu tidak perlu tau apa yang aku rasakan saat ini. Aku menulis bukan karena ingin kamu membacanya.  Aku menulis hanya karena …

aku tidak punya alasan tepat. Mengapa aku harus diam atau mengapa aku harus menulis. 


Kamu. Hal terindah yang pernah aku temui, walau hanya sebentar. Kamu memberikan banyak makna dalam proses kehidupanku. Kamu adalah setiap energi yang menyemangati langkahku. Kamu adalah kesalahan yang sulit untuk kuhindari. Dan ketika kamu menjauh…



Kamu tau aku masih bernafas.
Namun aku tidak lagi hidup.


Tapi tidak mengapa. Tulisan ini hanya coretan asal yang mengalir begitu aku mengingatmu. Seperti air mata yang tanpa sengaja mengalir jatuh tanpa terhalang bahumu lagi.


Meskipun sudah mati rasanya. Seperti kata kamu, dan aku setuju. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untukku. Untuk kita.   

Tidak ada komentar: