Kembali saya putuskan untuk menulis lagi.
Seperti kata kamu.
Menulis bukan karena supaya dibaca orang
lain, tapi karena memang ingin menulis.
Ah, sudahlah. Mungkin kamu sendiri lupa
dengan apa – apa saja yang kamu ucap dan janjikan kepadaku.
Ada terlalu banyak cerita yang ingin
kutulis, terlalu banyak rencana yang telah kuatur. Namun ketika aku mengingat
kata ‘kamu’ dalam ketikanku, aku hanya…
sulit untuk tidak menulis apa – apa saja
tentang kamu
Bertemu dan merasa nyaman denganmu
sungguh spontan dan di luar rencanaku. Merasa nyaman denganmu mengajarkan kata ‘ikhlas’
yang tidak perlu aku ucapkan, karena kata itu hanya pantas untuk dilakukan.
Seperti kata kamu. Ya, mungkin dari tulisan ini memang berarti aku belum ikhlas
secara harafiah.
Seperti kata kamu. Biarkan saja anak
kecil melakukan apapun yang mereka inginkan. Jangan takut jika mereka melakukan sebuah
kesalahan. Jangan pernah takut salah. Kesalahan hanya bagian dari proses. Hidup ini proses.
Lalu apa aku salah jika aku ingin
genggaman tanganmu? Karena saat itu aku merasakan kupu – kupu dalam perutku. Kamu
bilang mungkin itu cinta. Tenang saja, aku tidak akan memohonmu untuk
menjelaskannya karena aku sangat menikmati proses itu. Dan aku sudah terlalu
lelah untuk mengartikan apa itu cinta.
Seperti kata kamu. Bahwa menjalani hidup
bukan hanya sekadar nyaman. Terkadang ada
masa sulit yang harus dilewati. Itulah seni kehidupan.
Seperti kata kamu saja. Kamu tidak perlu tau apa yang aku rasakan
saat ini. Aku menulis bukan karena ingin kamu membacanya. Aku menulis hanya karena …
aku tidak punya alasan tepat. Mengapa aku
harus diam atau mengapa aku harus menulis.
Kamu. Hal terindah yang pernah aku temui,
walau hanya sebentar. Kamu memberikan banyak makna dalam proses kehidupanku. Kamu
adalah setiap energi yang menyemangati langkahku. Kamu adalah kesalahan yang
sulit untuk kuhindari. Dan ketika kamu menjauh…
Kamu tau aku masih bernafas.
Namun aku tidak lagi hidup.
Tapi tidak mengapa. Tulisan ini hanya
coretan asal yang mengalir begitu aku mengingatmu. Seperti air mata yang tanpa
sengaja mengalir jatuh tanpa terhalang bahumu lagi.
Meskipun sudah mati rasanya. Seperti kata
kamu, dan aku setuju. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untukku. Untuk kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar